KOMPAS.com – Hasil analisis terbaru menunjukkan bahwa tenaga surya dapat membantu negara-negara Asia Tenggara menghindari risiko kerugian besar akibat ketergantungan pada gas impor, terutama saat krisis global membuat harga energi dunia melonjak.
Melansir Eco Business, Selasa (24/3/2026) menurut lembaga riset energi Ember, jika ASEAN memilih tenaga surya daripada melanjutkan rencana penambahan pembangkit listrik gas, wilayah ini bisa menghemat hingga Rp1.131,5 triliun (67 miliar dolar AS) berdasarkan harga gas alam cair (LNG) saat ini dan proyeksi ke depan.
Studi dari Ember sebelumnya menunjukkan bahwa kapasitas tenaga surya terpasang di Asia Tenggara saat ini sebesar 27 gigawatt (GW), masih kurang dari 1 persen dari total potensi teknis wilayah ini yang mencapai lebih dari 30.000 GW.
Berdasarkan skenario transisi energi ASEAN saat ini, kapasitas gas diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 200 GW pada tahun 2030, dari 106 GW saat ini.
Analisis Ember menunjukkan bahwa mengoperasikan seluruh pembangkit listrik gas di wilayah tersebut dengan harga gas alam cair (LNG) saat ini akan menelan biaya sekitar Rp1.199 triliun (71 miliar dolar AS) per tahun, dan bisa melonjak hingga Rp1.841 triliun (109 miliar dolar AS) jika harga terus naik.