KOMPAS.com – Ekonomi hijau global telah mencapai tonggak sejarah besar dengan nilai pasar menembus Rp178.600 triliun (10 triliun dolar AS), menurut laporan terbaru dari LSEG.
Jika dianggap sebagai industri mandiri, sektor ini sekarang akan menempati peringkat ketiga terbesar di dunia melampaui sektor kesehatan, dan hanya berada di bawah sektor teknologi serta industri.
Melansir Know ESG, Jumat (26/6/2026) laporan tersebut juga menemukan bahwa ekonomi hijau kini menyumbang 9,9 persen dari seluruh saham perusahaan yang tercatat di bursa global.
Hal ini mencerminkan terus berkembangnya bisnis yang fokus pada produk dan layanan ramah lingkungan. Pendapatan pun mengalami peningkatan di 99 dari 133 kategori produk dan layanan hijau yang dipantau oleh LSEG, yang menunjukkan pertumbuhan yang merata di sektor ini.
Meskipun ada perubahan kebijakan di beberapa negara termasuk Amerika Serikat yang menarik diri dari komitmen iklim internasional dan mengurangi dukungan untuk insentif energi bersih tertentu, investasi pada bisnis berkelanjutan tetap kuat. Amerika Serikat terus mendominasi pasar hijau global dengan menyumbang 57 persen dari total nilai pasar hijau di seluruh dunia.
Permintaan perusahaan terhadap listrik ramah lingkungan juga semakin cepat. Raksasa teknologi seperti Meta, Amazon, Google, dan Microsoft bertanggung jawab atas hampir setengah dari seluruh perjanjian pembelian daya (PPA) energi bersih yang ditandatangani perusahaan selama tahun 2025. Hal ini memperkuat besarnya peran sektor swasta dalam memperluas penggunaan energi bersih.